Secuplik Novel Origin by Dan Brown


Novel Origin by Dan Brown

Where do we come from? Where are we going?
Sekiranya dua pertanyaan di atas adalah apa yang menjadi point utama dalam cerita di novel ini. Dan Brown dengan seri Robert Langdon kembali menyegarkan imajinasi kita melalui alur cerita yang kali ini mengkombinasikan agama, teknologi, dan sains. Novel berjudul Origin ini sebenarnya sudah tiba di pasar buku Indonesia sejak 2017 namun saya baru berkesempatan membacanya baru-baru ini. Pertama-tama masri kita bahas fisik dari buku ini. Cover buku ini ada dua tipe yaitu Amerika dan Inggris. Untuk Amerika covernya berwarna biru dengan gambar spiral staircase yang terdapat di Sagrada Familia yang akan merupakan latar tempat penting dalam cerita ini. Sedangkan, untuk yang versi Inggris covernya berwarna merah dan tetap ada spiral staircase dengan pemandangan Sagrada Familia. Berdasarkan pendapat pribadi saya cover versi Amerika lebih terlihat eye-cathcing daripada versi Inggrisnya walaupun saya membaca yang covernya versi Inggris.

                                                       cover Amerika


                                                         cover Inggris


Untuk di Indonesia sendiri yang beredar adalah yang versi Amerika baik yang english maupun terjemahan. Perbedaannya yang english adalah hard cover dengan cover biru tersebut sebagai case untuk bukunya. Kebetulan saya meminjam versi Inggris dari teman saya dan karena bukan seharusnya dipasarkan di Indonesia maka buku tersebut pun full english.
                Saya akan sampaikan beberapa tokoh dalam novel ini yang masih saya ingat:
1.       Professor Robert Langdon (jelas lah..)
2.       Ambra Vidal (seorang manager museum Guggenheim yang menurut bayangan saya mukanya mirip Aishwarya Rai.. :p)
3.       Edmond Kirsch
4.       Bishop Antonio Valdesphino
5.       Admiral Luis Avila
6.       Winston
7.       King of Spain
8.       Prince Julian
9.       Diego Garza
10.   Agent Fonseca
11.   Agent Diaz
12.   Father Bena
13.   Monica Martin
14.   Surresh Bhalla

Untuk alur ceritanya sendiri selayaknya novel konspirasi dibuka dengan adegan yang “meledak” yaitu saat Edmond Kirsch dibunuh tepat saat dia melangsungkan presentasinya namun belum sampai pada apa yang dia temukan. Sebelumnya Edmond sudah berulang kali memaparkan bahwa temuannya ini akan menjawab dua pertanyaan mendasar dari umat manusia “where do we comefrom? And where are we going?”. Robert Langdon dan Ambra Vidal yang merasa memiliki beban moral atas kematian Edmond pun berusaha mengungkap apa yang ditemukan oleh Edmond. Sama seperti cerita pada seri-seri Robert Langdon sebelumnya Professor Harvard ini selalu dibayangi sesuatu yang lebih kuat dan lebih besar darinya yang dalam cerita kali ini adalah Kerajaan Spanyol.
Dibantu oleh Artifficial Intelegent ciptaan Edmond yaitu Winston mereka berdua berusaha mencari password guna mengakses temuan Edmond dan mengumumkannya pada dunia. Melalui pelarian kesana kemari dan beberapa kali mempertaruhkan nyawa. Hingga akhirnya temuan Edmond dapat terungkap. Awalnya saya dengan lugunya mengira bahwa “where are we going?” lebih mengarah pada konteks afterlife dan ternyata bukan sama sekali. Pada akhir cerita ada sedikit twist tentang siapa pembunuh Edmond sebenarnya dan maksud-maksud dari semua tindakan Kerajaan Spanyol. Namun, bila memperhatikan detail dari cerita ini dari awal maka kita akan lebih mampu untuk menebak akhir ceritanya.
Well, dalam penggabungan agama, teknologi, dan sains kali ini Dan Brown menguhubungkan semua elemennya dengan sangat mulus. Beberapa dari kita mungkin akan berpikir buat apa seorang ilmuwan komputer seperti Edmond Kirsch mencari tahu tentang asal muasal manusia tetapi semua itu akan terjawab setelah kita memahami siapa Edmond sebenarnya. Alur cerita pada novel kali ini sangat segar dan tidak secara gamblang menyatakan happy ending. Overall, novel ini sangat menghibur para penggemar sains dan konspirasi karena sarat informasi yang futuristik.

Untuk saya sendiri saya memberi nilai 8,5 dari 10 untuk novel ini.


Comments