Favorite Social Theory (Pertukaran Sosial - George C. Homans)

Hi members of new society!
Kesempatan kali ini saya akan bercerita tentang one of my favorite social theory yaitu, Teori Pertukaran Sosial dengan tokoh khasnya George C. Homans. Why this could be my favorite? Teori ini menjelaskan bahwa bagaimana seseorang memperhitungkan dan menentukan keuntungan yang didapat dari hubungannya dengan orang lain. Teori ini memang terkesan sangat rasional namun saya memberikan istilah anti-munafik dalam mendefinisikan teori ini. Teori ini memandang hubungan interpersonal sebagai suatu transaksi karena pada dasarnya seseorang berhubungan dengan orang lain karena untuk memenuhi kebutuhannya. Dengan begitu dia akan bisa menentukan jenis hubungan yang harus dijalani. Teori ini juga digunakan untuk memahami sikap dan perilaku manusia dalam hal ekonomi. Dalam teori ini dijelaskan bahwa hubungan sosial memiliki unsur imbalan, pengorbanan, dan keuntungan yang saling mempengaruhi. Imbalan merupakan hal yang diperoleh dengan pengorbanan dan keuntungan adalah ganjaran dikurangi pengorbanan. Teori pertukaran sosial berakar dari teori behaviorisme yang melihat masyarakat secara sifat alamiahnya dari jenis manusia yaitu menginginkan keuntungan dan meminimalkan kesusahan dan pengorbanan. Ini terlihat jelas dalam teori pertukaran sosial dimana manusia akan mencari keuntungan dalam hubungan sosialnya dan memperhitungkan segala keuntungan dan kerugian dalam hubungannya dengan orang lain. Karena keuntungan sudah menjadi sifat dasar bagi manusia untuk mencarinya.
George Homans dalam teori pertukaran sosial ini menyatakan bahwa seseorang akan mengulangi suatu tindakan darinya bila tindakan tersebut menimbulkan imbalan untuknya. Prinsip dasar pertukaran sosial adalah “distributive justice” yaitu bahwa imbalan harus sesuai dengan investasi. Homans mendasarkan teori ini dalam berbagai proporsi yang fundamental. Pertama adalah proporsi sukses yaitu semakin sering tindakan mendapat imbalan maka akan semakin sering dilakukan.
Proporsi selanjutnya adalah proporsi pendorong yaitu saat ada suatu dorongan pada seseorang untuk melakukan sesuatu dan dia mendapat imbalan maka saat ada dorongan seperti itu lagi dia akan melakukan tindakan yang sama.
Lalu proporsi nilai yaitu makin tinggi nilai hasil tindakan seseorang bagi dirinya maka besar kemungkinan dia akan mengulangi tindakan tersebut.
Selanjutnya adalah proporsi deprivasi kejemuan yaitu semakin sering seseorang mendapat imbalan imbalan khusus di masa lalu yang dekat semakin kurang bernilai imbalan berikutnya.
Proporsi persetujuan adalah suatu respon dari seseorang dalam hal mendapat imbalan yang menguntungkan atau merugikan dirinya. Tindakan agresfi darinya akan sangat berarti bila dia mendapat kerugian dari tindakannya.
Proporsi rasionalitas yaitu seseorang dalam menentukan tindakannya akan cenderung memilih yang lebih bernilai untuknya.

Asumsi dasar
Asumsi yang mendasari teori ini juga sangat menarik dan sangat menggambarkan arti individu dan sisi egois seseorang. Asumsi dasar dari teori ini adalah bahwa semua manusia akan secara sukarela memasuki dan tinggal dalam hubungan sosial hanya selama hubungan tersebut cukup memuaskan dilihat dari pengorbanan dan keuntungannya. Individu dalam hubungan sosial akan mengharapkan dan memaksimalkan keuntungan. Teori ini berasumsi bahwa individu bersifat rasional dan memperhitungkan kemungkinan terbaik untuk bersaing dalam situasi yang menguntungkan dan individu juga berorientasi pada tujuan dalam sistem kompetisi di kehidupan sosial. Prinsip teori ini mirip dengan transaksi ekonomi walaupun keuntungannya tidak selalu diukur dengan uang. Standar yang digunakan manusia dalam mengevaluasi pengorbanan dan keuntungan bervariasi seiring berjalannya waktu dan tipe hubungan sosial yang terjadi. Fokus analisis teori ini adalah pada perilaku manusia saat berhubungan sosial dengan orang lain. Hubungan memiliki sifat saling ketergantungan yang artinya para pelaku hubungan sosial mengharapkan sesuatu dari hubungannya tersebut untuk memenuhi kebutuhannya. Setiap orang yang memiliki hubungan sosial dengan orang lain dan akan mengevaluasi atau menilai hubungan tersebut dan memutuskan untuk melanjutkan hubungan tersebut atau tidak. Perilaku manusia akan cenderung mengulangi suatu tindakan yang menguntungkan dirinya setelah dia melakukannya dan cenderung tidak mengulangi suatu tindakan bila dia pernah mendapat kerugian yang lebih besar dari keuntungan pada tindakan tersebut.

Kritik dan kelemahan
Tidak ada di bumi ini yang sempurna apalagi yang buatan manusia layaknya pemikiran Om Homans ini.. Teori ini menekankan pada tindakan manusia yang rasional yaitu berorientasi pada tujuan. Tindakan manusia semata – mata hanya untuk mencari keuntungan bagi dirinya. Kelemahan teori ini terdapat pada pernyataan tersebut, bila melihat realitas yang terjadi tindakan manusia tidak hanya terbatas pada pemenuhan kebutuhan danmencari keuntungan semata. Sebagai contoh tindakan seorang volunteer atau relawan. Hubungan sosial manusia pun juga tidak terus menerus pada proses pertukaran. Hubungan yang terjadi bisa disebabkan karena faktor lain seperti kesamaan prinsip dan kasih sayang. Hubungan seperti perbudakan dan peperangan juga tidak dapat dikatakan sebagai proses pertukaran.
Manusia adalah makhluk yang senantiasa mengalami perkembangan dalam pola pikirnya. Teori ini tidak berhasil menjelaskan solidaritas kelompok karena hubungan yang dinyatakan dalam teori ini adalah sebatas pemenuhan kebutuhan dari pelakunya. Teori ini juga mengesampingkan karakter individu dalam bertindak sesuai dengan karakteristik pribadinya. Individu dinilai sama dalam prinsip melakukan tindakan.
Teori ini juga mengesampingkan masalah pengaruh keadaan sosial terhadap tindakan individu. Dalam penjelasannya tindakan sosial seseorang seakan terbebas dari pengaruh sosial disekitarnya seperti kultur dan budaya. Proporsi – proporsi yang dijelaskan oleh Homans pun kurang dijelaskan bagaimana seseorang bertindak menurut keadaan sosial disekitarnya. Padahal kultur dan budaya sekitar adalah faktor penting dalam pola perilaku individu. Contohnya dalam masyarakat Jawa yang bila mendapat keuntungan dari suatu tindakan tertentu maka dia akan menekan dirinya untuk tidak terlalu sering melakukannya karena pengaruh budayanya.


Well, walaupun memiliki kelemahan dan masih ada kritik di dalamnya teori pertukaran sosial ini memberi sumbangsih besar dalam perkembangan ilmu sosial khususnya sosiologi dan psikologi. Untuk masyarakat kontemporer analisanya dapat dilakukan dengan pendapat Homans bahwa tujuan perilaku seseorang adalah tujuan ekonomi yaitu memperbesar keuntungan dan meminimalisir pengorbanan. Fenomena sosial dalam masyarakat kontemporer seperti kekuasaan, stratifikasi, dan perbedaan lainnya dapat dianalisis dengan prinsip pertukaran. Relevansi teori pertukaran sosial dan pilihan rasional bisa dengan mudah ditemui dalam kehidupan masyarakat kontemporer. Sebagai contoh kegiatan ekonomi yang semakin kompleks seperti jual beli, investasi, dan pengumpulan bunga di bank. Dalam kegiatan ekonomi terdapat timbal balik yang didapat pihak – pihak yang melakukan kegiatan tersebut. Jadi dalam teori ini seseorang yang melakukan hubungan dengan orang lain haruslah saling memberi keuntungan satu sama lain walaupun terkadang nilai dari keuntungan tersebut berbeda untuk tiap pelakunya. Masyarakat kontemporer yang memiliki akal mutakhir pasti tahu dan telah memperhitungkan apa yang dia dapat dari tindakan dan hubungannya dengan orang lain.
 Itulah yang dapat saya sampaikan dalam tulisan ini. Koreksi dari pembaca semua sangat saya harapkan. Terimakasih!

Comments